Suatu kali di depan murid-muridnya, K.H. Ahmad Dahlan berucap tegas dengan nada sedikit kesal. “Kalian sudah hafal surat Al Ma’un, tapi bukan itu yang saya maksud. Amalkan! Diamalkan, artinya dipraktekkan, dikerjakan! Rupanya, saudara-saudara belum mengamalkannya,” lantang sang kiai seperti diungkap Junus Salam dalam K.H. Ahmad Dahlan, Amal dan Perjuangannya (2009).

“Mulai hari ini,” lanjutnya, “Saudara-saudara pergi berkeliling mencari orang miskin. Kalau sudah dapat, bawalah pulang. Berilah mereka mandi dengan sabun yang baik, berilah pakaian yang bersih, berilah makan dan minum, serta tempat tidur di rumahmu” (hlm. 149).

Ahmad Dahlan bukan orang yang jago teori semata. Harus ada praktik konkret agar benar-benar paham dan tahu persoalan yang dihadapi untuk kemudian diselesaikan. Baginya, ajaran Islam tidak akan membumi dan dijadikan pandangan hidup pemeluknya kecuali dipraktikkan.

Betapa pun bagusnya rencana atau rancangan, mustahil mencapai tujuan jika tidak diterapkan. Oleh karena itu, Ahmad Dahlan tidak terlalu banyak mengelaborasi ayat-ayat al-Qur’an. Kiai ini, menurut Herry Mohammad dalam Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20 (2006), lebih cenderung mengaplikasikannya langsung dalam kehidupan melalui amal nyata (hlm. 10).

Itulah yang nantinya dilakukan ulama yang dijuluki “sang pencerah” ini dalam merintis dan membesarkan Persjarikatan Moehammadijah sejak 18 November 1912. Meski tidak semua orang sepakat dengan gaya perjuangannya yang memang tidak biasa itu.

Transformasi Putra Kauman

G.F. Pijper, seperti dikutip Weinata Sairin dalam Gerakan Pembaruan Muhammadiyah (1995), pernah menggambarkan suasana kampung kelahiran Dahlan. “Kampung Kauman seperti dalam lukisan Sultan Yogyakarta, terdiri dari jalan-jalan sempit dan tembok-tembok putih. Suasananya sunyi dan tenteram. Orang akan menyangka bahwa kesibukan penduduknya berada di dalam kamar yang setengah gelap” (hlm. 36).

Begitulah kesan awal penasihat pemerintah kolonial yang bertugas mempelajari agama Islam itu, setelah melihat sendiri suasana Kauman pada 1930-an. Namun, Pijper lebih takjub lagi manakala di malam harinya terdengar suara orang ramai mengaji dari dalam rumah-rumah yang semula dikiranya senyap.

Di tengah kampung kecil yang berada tak jauh dari Keraton Yogyakarta itulah Ahmad Dahlan dilahirkan pada 1 Agustus 1868.

Nama lahir Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy (Darwis). Ayahnya, Kyai Haji Abu Bakar bin Sulaiman, bekerja sebagai pejabat khatib di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta. Sementara sang ibunda, Siti Aminah, adalah putri Haji Ibrahim bin Hasan yang merupakan pejabat penghulu kraton.

Menurut M. Nasruddin Anshoriy Ch dalam Matahari Pembaruan: Rekam Jejak K.H. Ahmad Dahlan (2010), Muhammad Darwisy disebut-sebut masih bertalian darah dengan Maulana Malik Ibrahim (hlm. 37). Ia dipercaya termasuk keturunan ke-12 dari salah seorang anggota Walisanga yang melegenda sebagai perintis penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa itu.

Ketika berusia 15 tahun, Darwisy berhaji dan menetap di Mekah. Ia ingin belajar agama lebih mendalam lagi. Di sana, Darwisy berguru kepada para ulama pembaharu Islam, seperti Sayyid Bakri Syatha, Syaikh Ahmad Khatib, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Ibnu Taimiyah, Al-Afghani, Syaikh Abdul Hadi, dan tokoh-tokoh lainnya. Darwisy juga pernah belajar di bawah bimbingan guru yang sama dengan Hasyim Asy’ari yang kelak mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam Kiai Haji Ahmad Dahlan (2009), Adi Nugraha mencatat bahwa sebelum pulang ke tanah air pada 1888, Darwisy diberi nama baru oleh Sayyid Bakri Syatha (hlm. 24). Nama baru pemberian gurunya itu lah yang kemudian disandangnya sampai akhir hayat: Ahmad Dahlan. Kelak, pada 1903, ia kembali lagi ke Tanah Suci membawa serta putranya, Muhammad Siraj, yang masih berumur 6 tahun.

Ulama Pelintas Batas

Sebelum mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912, Ahmad Dahlan memang telah memilih jalur yang tidak biasa dan berisiko menuai kontroversi. Pendidikan dan pelayanan sosial dijadikan ujung tombak utama untuk memperkenalkan serta menjalankan organisasinya itu.

Berkat pergaulannya yang luas dan menerima banyak pembelajaran dari para ulama Islam pembaharu, Ahmad Dahlan tidak alergi terhadap apa dan siapapun. Ia menyambangi pihak-pihak yang barangkali oleh umat Islam pada saat itu dianggap sebagai kubu yang berseberangan dan dihindari sebisa mungkin.

Diungkapkan oleh Alfian dalam Politik Kaum Modernis; Perlawanan Muhammadiyah terhadap Kolonialisme Belanda (2010), pada 1908, saat Boedi Oetomo (BO) dibentuk di Batavia, Ahmad Dahlan ikut bergabung, bahkan menjadi komisioner (hlm. 174). Padahal, BO dimotori kaum priyayi yang tidak selalu sepaham dengan Islam dalam kepercayaan maupun pola gerakannya.

Ahmad Dahlan tidak membatasi geraknya hanya pada satu golongan. Ketika Jami’at Khair didirikan pada 1910, ia juga ambil bagian. Begitu pula saat Sarekat Islam (SI) mulai menggeliat, Ahmad Dahlan tidak ketinggalan membawa gerbong Muhammadiyah untuk merapat.

Tak hanya itu, Ahmad Dahlan tidak segan-segan bergaul dengan orang-orang Belanda atau Eropa, juga dengan kalangan dari agama lain. Ia bahkan menjalin hubungan dengan golongan yang biasanya mendapatkan pandangan buruk dari umat Islam kebanyakan.

Usaha Membuat Terobosan untuk Umat

Ahmad Dahlan dengan segenap kesadaran mengambil apa-apa yang dianggapnya baik dan bermanfaat, tanpa terlalu mempersoalkan asal-usul atau latar belakangnya. Salah satu contoh adalah didirikannya sekolah dengan konsep pendidikan kolonial atau gaya Barat, bukan laiknya pondok pesantren kebanyakan yang berformat tradisional.

Kendati tetap berangkat dari konsep agama/Islam, sekolah yang dirintisnya di Kauman itu menerapkan metode Barat, bahkan hingga hal-hal teknis. Sekolah tersebut dikelola dengan sistem yang terorganisir, juga peralatan serta perabotan layaknya sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial.

Sekolah ini bisa disebut sekolah modern karena memakai bangku, meja, papan tulis, mempelajari bahasa Melayu, berhitung, ilmu bumi, ilmu hayat, baca-tulis latin, selain tentu saja tetap mempelajari agama. Demikian pula dengan pakaian yang dikenakan oleh para guru dan siswanya. Berdasarkan keterangan Abdul Munir Mulkhan dalam Kiai Ahmad Dahlan, Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan: Kado Satu Abad Muhammadiyah (2010), mereka memakai celana, terkadang berdasi, seperti pakaian orang-orang kolonial Belanda yang memeluk agama Kristen (hlm. 21).

Masih menurut Mulkhan, kontroversi tak pelak terjadi. Bahkan sekolah itu sempat kena boikot dari orang Islam sendiri. Ini terjadi lantaran masih kuatnya anggapan hanya sekolah-sekolah kolonial dan Kristiani yang mempelajari pengetahuan umum. Tidak heran jika sekolah yang didirikan Ahmad Dahlan di bawah payung Muhammadiyah seringkali dicap sebagai sekolah Kristen yang oleh pemeluk Islam dipandang haram (hlm. 22).

Sebaliknya, menurut Karel A. Steenbrink dalam Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern (1986), Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah juga pernah merintis madrasah dengan memakai bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Namun, madrasah tersebut didirikan di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta yang lekat dengan tradisi Jawa/kejawen.

Ahmad Dahlan menempatkan beberapa guru lokal di madrasah ini. Namun, selain ilmu agama, pelajaran umum juga diberikan, termasuk mengadopsi sistem pendidikan kolonial. Jadi, Ahmad Dahlan memadukan gaya pendidikan Eropa dan Islam di tengah pusaran tradisi Jawa.

Terobosan serupa juga diterapkan Ahmad Dahlan di sektor-sektor layanan Muhammadiyah lainnya. Termasuk, menurut keterangan Mulkhan, membangun perpustakaan, lembaga penerbitan buku dan majalah, rumah sakit, panti jompo, tempat penampungan korban perang, bahkan rumah-rumah pondokan untuk anak-anak dari luar yang menempuh pendidikan di Yogyakarta (hlm. 22).

Logika Sang Pencerah

Timbul kegelisahan dalam diri Ahmad Dahlan saat kembali dari tanah suci. Abuddin Nata, dalam Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia (2001), menyatakan bahwa masyarakat muslim di Kauman cenderung bersifat Islam tradisionalis yang belum bisa memisahkan antara ajaran dan yang bukan. Berbagai praktik adat atau tradisi kejawen sangat berdampak pada penerapan agama Islam (hlm. 146).

Sejak kecil, Ahmad Dahlan memang sudah terbiasa dengan lingkungan religius-kejawen karena Kauman berada di dekat keraton. Banyak praktik tradisi dalam kategori bid’ah yang sering diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Sebut saja selamatan, ziarah kubur, bahkan perayaan Sekaten, dan seringkali disertai ritual-ritual yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Meski pun dalam berbagai praktik tradisi Jawa itu diselipkan misi Islam sebagaimana yang pernah diterapkan Walisanga di masa lalu, Ahmad Dahlan tetap saja resah. Dari situlah muncul keinginan untuk berusaha memurnikan Islam, setidaknya di lingkup tempatnya tinggal.

Ahmad Dahlan sadar, ia tidak bisa langsung menentang tradisi Jawa. Ia juga mengakui bahwa unsur kejawen telah menjadi bagian dari identitasnya. Kendati begitu, hal-hal yang menjurus kepada perbuatan musyrik harus diluruskan.

Demi menghindari potensi konflik yang lebih besar, Ahmad Dahlan memakai nalar untuk menjelaskan kepada orang-orang di lingkungannya. Ia memberi pemahaman baru tentang beberapa perbuatan yang selama ini dilakukan atas nama tradisi.

Dalam tradisi selamatan (syukuran), misalnya, disarankan kepada masyarakat untuk tetap melakukannya tanpa harus membebani secara finansial maupun tenaga. Warga masih bisa menggelar selamatan namun cukup hanya dengan berdoa bersama saja, tidak perlu memakai sesaji, ubo rampe, dan sejenisnya.

Ahmad Dahlan, seperti diungkap M. Sanusi dalam Kebiasaan-kebiasaan Inspiratif K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asyari: Teladan-teladan Kemuliaan Hidup (2013), berusaha menyederhanakan praktik-praktik sosial yang dianggap rumit dan menjadi beban agar bisa tetap dilakukan tanpa mengeluarkan biaya yang sebenarnya tidak perlu (hlm. 91). Selain itu, tentu untuk menghindari perbuatan yang diyakininya tidak diajarkan dalam Islam.

Bagi sejarawan Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (2008), pendekatan logika yang diterapkan Ahmad Dahlan cukup berhasil. Gagasan pembaharuan ini pada dasarnya merupakan rasionalisasi perubahan sosial dari masyarakat agraris ke masyarakat industrial, atau dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern (hlm. 450).

Melalui Muhammadiyah, Ahmad Dahlan telah menawarkan jembatan untuk memperlancar transformasi sosial menuju masyarakat kota yang lebih modern. Ahmad Dahlan tampaknya memang menggagas Muhammadiyah untuk mencapai cita-cita semacam itu.

Biar sejarah yang membuktikan apakah Muhammadiyah, pengurus dan umatnya mampu terus merawat dan melanjutkan cita-cita dan kehendak Ahmad Dahlan, Sang Pencerah yang mulia itu.(sp/tirto). sumber: sangpencerah.id

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here