“MAKAN TUCH PEMUDA MUHAMMADIYAH”

Oleh : Dahnil Anzar Simanjuntak

Peristiwa pertama, di satu daerah yang saya kunjungi, seorang kader Kokam bercerita penuh sedu sedan haru jelang menangis. suatu hari dia pulang dari kegiatan Kokam, tiba dirumah setelah 3 hari tidak pulang, dia menemui istrinya sedang bekerja di dapur, dan sahabat Kokam ini kemudian, membuka tutup saji karena lapar terasa teramat sangat, tapi alangkah kagetnya dia, bukannya makanan yang dia temui tapi “Seragam Kotor Kokam”, lantas dia menatap ke Istrinya, tanpa berkata apa pun, sang Istri pun berkata dengan keras ” MAKAN TUCh SERAGAM KOKAM”. Sahabat saya itu, tidak berkata apapun, hanya tertunduk, dan termenung.

Peristiwa Kedua, seorang sahabat bercerita suatu hari ia sedang bersama salah satu sahabat lainnya didalam mobil Kijang Innova yang baru saja dia beli, sahabat tersebut duduk di Bangku Kemudi, dan dia duduk Disampingnya, Tiba-tiba masuk telpon, oh….ternyata dari Istrinya, karena mereka ngobrol dengan penuh keakraban dan canda, tapi sampai pada ujung percakapan ketika sahabat tersebut menyatakan dia tidak bisa pulang cepat, malam itu, seketika terdengar dari HP sayup-sayup, entah dengan nada canda atau marah, kata-kata “MAKAN TUCh PEMUDA MUHAMMADIYAH”. Nah lho?

Sahabat, kader Pemuda Muhammadiyah dan Kokam di seluruh Indonesia. Saya mendengar dua peristiwa yang hampir serupa, dengan pilihan kalimat yang sama. “MAKAN TUCH PEMUDA MUHAMMADIYAH”. Bagi saya, Dua peristiwa tersebut, menyelipkan 2 Suasana kebatinan sekaligus.

Pertama. BANGGA. Saya bangga mendengar cerita itu, bangga karena Pemuda Muhammadiyah dan Kokam diurusi oleh orang-orang yang dedikasinya melangit, cintanya menyengat, ikhlasnya hebat. Gerakan ini beruntung memiliki kader-kader yang mencintai Persyarikatan dan dakwahnya sepenuh hati dan total. Saya bangga berdiri, duduk dan bergerak bersama mereka, yang seringkali saya justru merasa tidak pantas memimpin mereka yang hebat-hebat itu.

Kedua. SEDIH. Saya sedih karena masih banyak kader-kader Pemuda Muhammadiyah khususnya Kokam yang memiliki keterbatasan ekonomi, bahkan tidak jarang bisa disebut berkekurangan meski pun hal itu tidak pernah menjadi alasan mereka untuk menghidup-hidupkan dakwah Islam melalui Muhammadiyah. Namun, sebagai Pimpinan Tertinggi Organisasi anak Muda Muhammadiyah ini, saya sedih karena belum mampu sama sekali memberikan solusi terbaik membantu banyak sahabat saya tersebut, saya sedih karena hanya mampu mendengar dan melihat fakta tersebut.

Sahabat, saya sama sekali tidak mempersalahkan para perempuan-perempuan hebat yang sudah dengan ikhlas menemani kita itu, bahkan saya kagum dengan mereka, bertahan dengan berbagai keterbatasan dan cinta kita yang teramat sangat terhadap gerakan dan Persyarikatan. Bahkan, seringkali hak-hak anak istri seperti waktu dan materi “terampas”.

Melalui pesan ini, izinkan saya menyampaikan maaf nan tulus dan Terimakasih yang teramat sangat kepada para perempuan-perempuan hebat tersebut. Kami memaklumi akan kemarahan itu, sambil kami bercermin untuk memperbaikinya.

Agaknya, suasana kebatinan yang serupa pasti juga dialami oleh perempuan hati saya gesturenya, mimiknya, dan rangkaian kata yang muncul meskipun tidak seperti peristiwa diatas, saya tahu persis banyak hak-hak mereka yang terpaksa terabaikan. Tapi, saya agak beruntung, perempuan hati saya memahami dengan baik tanggungjawab yang sedang aku pikul, dia sadar betul bahwa cinta ku memang terbagi, namun terbagi kepada gerakan bukan yang lain, coba-coba yang lain bisa beuuuuuhh bisa tamat “Biarlah hari demi hari berlalu, InsyaaAllah ada kebaikan dalam setiap niat baik untuk Agama Allah” begitu kira-kira matanya bicara ketika hampir setiap sebelum subuh dia melepas ku didepan pintu rumah menuju bandara. *Klo ini Kaenya rayuan maut yang hanya dimiliki laki-laki subuh nan gagah perkasa bagai Kokam Berani tapi takut istri. Sumber: Facebook Dahnil Anzar Simanjuntak

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here