Semangat membela Islam ditunjukkan secara serius oleh seseorang hingga memasang spanduk di Masjid Al Jihad Setiyabudi. Spanduk besar terpasang di Masjid Al Jihad, Setiabudi, Jakarta Selatan. Isi tulisan di spanduk itu tertulis. “‘MASJID INI TIDAK MENSHOLATKAN JENAZAH PENDUKUNG DAN PEMBELA PENISTA AGAMA’.
Spanduk terpasang di bangunan depan masjid. Masjid Al Jihad ini terletak di Jalan BB Karet Setiabudi, Jaksel. Masjid tak jauh dari Polsek Setiabudi.
Berdasarkan penelusuran redaksi SangPencerah.id, masjid ini memang berada di bawah naungan PCM Setiyabudi. Dari tulisan di papan nama masjid, Masjid Al-Jihad berada di bawah koordinasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Setiabudi, Karet, Jakarta Selatan. Akan tetapi dari informan yang kami hubungi, pemasang spanduk itu kemungkinan bukan orang di Masjid Setiyabudi ini juga bukan pengurus PCM Setiyabudi.
Spanduk yang ada di Masjid ini pun mengundang apresiasi positif dari netizen muslim dan mereka yang anti kepada pemimpin penista agama. (sp/red)
salah satu dalilnya adalah sebagai berikut:

Firman Allah SWT, “Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaanfasik,” (At-Taubah: 84).

Dari ‘Umar r.a, ia berkata, “Ketika ‘Abdullah bin Ubay bin Salul mati Rasulullah saw. diundang untuk menshalati jenazahnya. Saat beliau bersiap menshalatinya, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau menshalati jenazah Ibnu Ubay? Bukankah pada hari ini dan ini ia mengatakan begini dan begini? ‘Umar menyebutkan beberapa perkataannya. Rasulullah saw. hanya tersenyum lalu berkata, ‘Mundurlah hai ‘Umar!’ Aku terus mendesak beliau hingga beliau berkata, “Sesungguhnya aku telah diberi pilihan, lalu aku memilih menshalatinya, seandainya aku tahu ia akan diampuni apabila aku menambah istighfar lebih dari tujuh puluh kali niscaya akan aku tambah.’ ‘Umar berkata, ‘Rasulullah saw. menshalati jenazahnya kemudian beliai pergi. Tidak berapa lama setelah itu turunlah dua ayat dalam surat al-Baraa’ah, “Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (At-Taubah: 84). ‘Umar berkata, ‘Setelah itu aku pun heran menyadari kelancanganku terhadap Rasulullah saw. pada hari itu, Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’,” (HR Bukhari [1366]).

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here