PAK AR FAKHRUDDIN NAIK (mbonceng) SEPEDA MAHASISWA UMY

Permata para pemimpin Muhammadiyah (1)

“PAK AR FAKHRUDDIN NAIK (mbonceng) SEPEDA MAHASISWA UMY”

Sekitar tahun 1988/89, anak anak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Kampus lapangan Asri menyelenggarakan acara Ramadhan di Kampus (RDK). Salah satu acaranya adalah Kuliah Subuh. Pagi itu jadwalnya pak AR Fakhruddin utk mengisi kuliah subuh.

Sekitar pkl 03.30 salah seorang panitia Romadhan di Kampus UMY yang sekaligus aktifis IPM dan IMM sudah bersiap siap untuk menjemput Pak AR di rumah dinas Ketua Umum Muhammadiyah di jalan Cikdi Tiro sebelah seltan bunderan UGM(Sekarang menjadi kantor PP Muhammadiyah). Pak AR memang sampai akhir hayatnya tidak punya rumah sendiri. Setelah menunggu sekian lama, ternyata sopir yang seharusnya akan mengantar mahasiswa tersebut utk menjemput Pak AR tidak kunjung datang. Kunci mobil yang akan digunakan untuk menjemput pak AR sudah dicari cari juga belum ketemu.Mahasiswa tersebut semakin cemas dan akhirnya memutuskan ceramah kuliah subuh pak AR ditunda dan aksn diganti di hari lain karena tidak ada mobil yang digunakan untuk menjemput pak AR. Baik PP Muhammadiyah maupun UMY waktu itu mobilnya sangat terbatas.

Akhirnya mahasiswa tersebut naik sepeda dari kampus UMY lapangan ASRI menuju rumah dinas pak AR di cikditiro dengan tujuan sowan pak AR untuk memberitahu bahwa kuliah subuh ditunda untuk hari lain. Dengan penuh semangat (ngebuuuut) sepeda di kayuh menuju rumah pak AR di Cikditiro. Sekitar 30 an menit lebih mahasiswa UMY tersebut akhirnya sampai di rumah pak AR.Keringat bercucuran membasahi tubuh. Dengan nafas masih ter engah… engah, sepeda distandarkan kemudian berjalan mendekati pintu rumah PAK AR dan manyampaikan salam…….

” Assalaamu’ alaikum wr wb.”
Pak AR langsung menjawab salamnya….” waalaikum salam,wr.wb”.
Pak AR ternyata sudah lama menunggu jemputan dari panitia Ramadhon dan sudah siap untuk berangkat. Begitu melihat ada mahasiswa UMY datang pak AR Langsung berkata….” monggo mas kita langsung berangkat agar tidak terlambat….”.

Mahasiswa UMY tadi jadi bingung dan berkata, “mohon maaf pak AR, saya kesini memang rencana awalnya akan bertugas menjemput pak AR. Namun karena sopir yang akan menemani saya jemput pak AR tidak datang dan kunci mobilnya juga tidak ketemu maka saya kisini untuk matur (memberitahu) pak AR bahwa kuliah subuh bapak diundur diganti di hari lain”.

Pak AR kemudian berkata,….” panjenengan tadi kesini naik apa mas..?”. Mahasiswa UMY tersebut menjawab…” ngangge sepeda pak”.

Pak AR selanjutnya ngendiko…” oow… ya sudah. Kuliah subuhnya tidak usah diundur atau diganti hari yang lain. Pun…nggo sakniki ten kampus UMY ngangge sepeda jenengan mawon. Kulo mbonceng jenengan….”.

Mahasiswa UMY sang panitia Romadhan di Kampus tersebut kaget campur bingung, kemudian matur/berkata pada pak AR,…”Mohon maaf pak, tidak mungkin bapak saya boncengkan naik sepeda ke kampus UMY. Kan jauh pak”.

Di pikiran mahasiswa UMY tersebut berkecamuk bayangan…..” pak AR Fakhruddin kan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sudah sepuh, bagaimana mungkin mau mbonceng sepeda dari Cikditiro hingga ke kampus UMY Lapangan ASRI…..”
Ketika hatinya sedang gundah dan pikiranya sedang risau,..tiba tiba pak AR ngendiko….”.. nggo mas kita segera berangkat agar ku.iah subuhnya tidak terlambat..”.

Akhirnya anak muda mahasiswa UMY tadi tidak kuasa menolak permintaan pak AR FAKHRUDDIN dan segera menyiapkan sepedanya untuk mengantar pak AR ke UMY. Di pagi buta saat itu dan dalam dingginnya udara pagi Yogyakarta, akhirnya sang mahasiswa yang panitia Ramadhan di Kampus UMY tersebut akhirnya terpaksa memboncengkan pak AR Fakhruddin dengan sepeda ontel dari jalan Cikditiro menuju kampus UMY di Lapangan ASRI.

Sepeda ontel yang sangat ringkih itu terasa seperti motor, dan tubuh pak AR yang besar terasa ringan. Ia boncengkan pak AR dengan penuh semangat sekaligus hati hati. Kayuhan demi kayuhan pedal sepeda ia genjot dengan penuh tenaga. Matanya berkaca kaca. Buliran demi buliran air mata mulai menetes tak terbendung lagi, bercampur dengan keringat yang membasahi pipinya. Anak muda mahasiswa UMY yang waktu itu aktif di PC IPM Depok dan IMM UMY tersebut betul betul terharu. Pak AR FAKHRUDDIN Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan hati gembira bersedia dibonceng sepeda untuk kuliah subuh di UMY kampus lapangan ASRi dengan menempuh perjalan yang cukup jauh.Akhirnya Pak AR FAKHRUDIN sampai ke kampus UMY dengan selamat dan kuliah subuh dapat berlangsung sesuai jadwal.

Bagi anak muda mahasiswa UMY ini, peristiwa ini akan diingat seumur hidupnya bahkan dampaknya dalam proses perkaderan akan melebihi perkaderan formal yang pernah diikutinya di IPM maupun IMM seperti perkaderan Taruna Melati dan perkaderan Darul Arqom.Akhlaq rendah hati dari pak AR Fakhruddin telah mampu menyentuh di lubuk hatinya yang paling dalam untuk sekaligus menempanya untuk menjadi kader persyarikatan hingga akhir hayatnya. Anak Muda Mahasiswa UMY sahabat saya tersebut bernama SYAHRIRSYAH, yang sekian tahun dari peristiwa itu akhirnya jadi Ketua Umum DPP IMM. saat ini tinggal di Cibinong Bogor dan tetap aktif berMuhammadiyah.

Akhlaq mulia KH AR Fakhruddin berkilau bak permata yang keindahanya selalu dirindukan oleh anak anak muda Muhammadiyah khususnya dan warga Muhammadiyah pada umumnya. Semoga para pimpinan persyarikatan di semua tingkatan dapat menghadirkan teladan akhlaq mulia bagi anak anak muda Muhammadiyah dan ummat. Demikian juga para pimpinan di pemerintahan, bapak bapak dan ibu ibu yang saat ini diamanahi kekuasaan, semoga anda mampu menjadi teladan bagi kami. Kami rindu hadirnya pemimpin yang takuut kepada Allah Swt dan pemimpin yang betul betul peduli dan mencintai rakyatnya karena Allah. ( OMAH BETAWI Piyungan. 25 Januari 2018.edisi tulis ulang dan perbaikan)

Sumber facebook: Jamaludin Ahmad

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here